Entri Populer

Jumat, 20 Juli 2012

Ciri-Ciri Orang Beriman dalam Al-Qur'an

بسم الله الر حمن الر حيم
QS.Al-Anfal:2-4
Artinya;
“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakkal.”
“(Yaitu) orang yang melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeqi yang Kami berikan kepada mereka.”
“Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan meperoleh derajat tinggi disisi Tuhannya dan ampunan serta rezeqi (nikmat) yang mulia.”
At-Taubah:18
Artinya;
“Sesungguhnya orang yang memakmurkan mesjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apapun) kecuali kepada Allah. Maka mudahan mereka termasuk orang yang mendapat petunjuk.”
QS.Al-Mu’minun:1-9
Artinya;
“Sungguh beruntung orang yang beriman.”
“(Yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
“Dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.”
“Dan orang yang menunaikan zakat.”
“Dan orang yang memelihara kemaluannya.”
“Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.”
“Tetapi siapa yang mencari dibalik itu(zina, dan sebagainya) , maka mereka itulah yang melampui batas.”
“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.”
“Serta orang yang memelihara.”
QS.As-Sajadah:15-16
Artinya;
“Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan kepadanya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya dan mereka tidak menyombongkan diri.”
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap,dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeqi yang Kami berikan kepada mereka.”
QS.Al-Hujurat:15
Artinya;
“Sesungguhnya orang mu’min sejati adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya dijalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
QS.Al-Anfal:71
Artinya;
“Dan orang-orang yang beriman serta berjihad dijalan Allah, dan memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeqi (nikmat) yang mulia.”
QS.Al-Anfal:75
Artinya;
“Dan orang yang beriman setelah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu, maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (dari pada yang bukan kerabat) menurut kitab Allah. Sungguh Allah mengetahui segala sesuatu.”

DO'A SHOLAT TARWIH



بسم الله الرحمن الرحيم


اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنْ، وَلِلْفَرَآئِضِ مُؤَدِّيْنَ، وَلِلصَّلَاةِ حَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكاَةِفَاعِلِيْنَ، وَلَمَاعِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِى الْأَخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَآءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَآءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَآءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَآءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَآئِرِيْنَ، وَاِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ، وَاِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَمِنْ حُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آَكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مَنْ مَعِيْنٍ، مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ، وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيْقًا، ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذَا الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَآءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَآءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَآاَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Terjamahnya:

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang melaksanakan kewajiban-
kewajiban terhadap-Mu, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akherat , yang ridha dengan ketentuan, yang ber¬syukur atas nikmat yang diberikan, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, sampai kepada telaga (yakni telaga Nabi Muhammad) yang masuk ke dalam surga, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah de¬ngan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui.
Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini tergolong orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya, Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas penghulu kita Muhammad, keluarga beliau dan shahabat beliau semuanya, berkat rahmat-Mu, oh Tuhan, Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

FADHILAH SHUBUH SAMPAI SYURUQ


1. Keutamaan shalat shubuh
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

‎أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(QS. Al Isra: 78)
Rasululloh bersabda:
مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ
Barangsiapa sholat isya’ di dalam jama’ah, hal itu seperti sholat setengah malam. Dan barangsiapa sholat isya’ dan subuh di dalam jama’ah, hal itu seperti sholat semalam suntuk
(HR. Abu Dawud)
Belum lagi ditambah dengan keutamaan shalat qabliyah shubuh, yang dimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
“Dua raka’at Shalat Fajr (shalat qabliyah shubuh) lebih baik dari pada dunia dan seisinya.”
[HR. Muslim]
Bukti kelurusan iman seseorang; karena Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tentang shalat shubuh bersabda:
صَلَاةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنْ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya’ dan Shubuh, jika mereka mengetahui pahalanya, niscaya mereka mendatanginya kendatipun dengan merangkak.”
(HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya)
Maka tentu, orang yang baik keimanannya; tidak akan merasa berat dengan kedua shalat ini.
2. Keutamaan shalat berjama’ah
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tentang shalat berjamaah:
‎صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjama’ah LEBIH AFDHAL dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian”
[Muttafaqun 'alayh]
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‎إِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
Sesungguhnya shalat seseorang yang berjamaah dengan satu orang, adalah lebih baik daripada shalat sendirian. Dan shalatnya bersama dua orang jamaah, adalah lebih baik daripada shalat bersama seorang jamaah. Semakin banyak jama’ahnya, maka semakin dicintai oleh Allah Ta’ala.”
(Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya, kitab Ash Shalat bab Fi Fadhli Shalatul Jama’ah no.467, An-Nasaa’i dalam sunannya kitab Al Imamah bab Al jama’ah idza kaana Itsnaini no.834, Ahmad dalam Musnad-nya no.20312 dan Al Haakim dalam Mustadrak-nya 3/269. Hadits ini di-shahih-kan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, 2/366-367, no. 1477)
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‎لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ يَعْلَمُ أَنَّهُ إِذَا شَهِدَ الصَّلَاةَ مَعِي كَانَ لَهُ أَعْظَمُ مِنْ شَاةٍ سَمِينَةٍ أَوْ شَاتَيْنِ لَفَعَلَ فَمَا يُصِيبُ مِنْ الْأَجْرِ أَفْضَلُ
“Sekiranya salah seorang dari kalian mengetahui bahwa bila dia ikut shalat berjama’ah denganku maka dia akan mendapatkan pahala yang lebih besar dari seekor kambing yang gemuk atau dua ekor kambing yang gemuk, niscaya dia akan melakukannya. Padahal apa-apa yang diperolehnya dari pahala (tersebut) lebih afdhål baginya.”
(Shåhiih, HR. Ahmad; dishahihkan asy-Syaikh Ahmad Syaakir)
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‎صَلَاةُ أَحَدِكُمْ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ وَبَيْتِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
”Shalat seseorang dengan berjamaah lebih berlipat pahalanya 25 derajat daripada shalatnya di rumahnya atau di kedai pasarnya…..”
Kemudian Råsulullåh bersabda:
‎وَذَلِكَ بِأَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ
“Yang demikian itu karena bila dia berwudhu’ dengan menyempurnakan wudhu’nya lalu menuju ke masjid, yang dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat jamaah, tidak bergerak kecuali untuk shalat (berjama’ah).
‎لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ
Maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat baginya atau akan dihapuskan satu kesalahannya.
‎وَالْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ
Dan Malaikat akan mendo’akan salah seorang dari kalian selama dia masih pada tempat shalatnya yang dia dijadikannya sebagai tempat shalatnya, (do’a malaikat tersebut):
‎اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ . اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ
“Ya Allah, berilah shalawat untuknya. Ya Allah, rahmatilah dia, selama dia belum berhadats dan tidak menyakiti orang lain disana “.
Dan Beliau bersabda:
‎أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ
“Salah seorang diantara kalian sudah dianggap mendirikan shalat, ketika menunggu waktu shalat didirikan”.
(HR.Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda
مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ خَرَجَ يُرِيدُ الصَّلَاةَ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ فَلَا تَقُولُوا هَكَذَا يَعْنِي يُشَبِّكُ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
“Barangsiapa berwudlu kemudian keluar untuk melaksanakan shalat, maka ia dalam hitungan shalat hingga ia kembali ke rumahnya. Maka janganlah kalian melakukan demikian, yaitu menjalin jari-jari.”
[HR. Ibnu Khuzaimah no. 439, Al-Haakim 1/206, dan Ad-Daarimi no. 1446; shahih].
Dari Abu Ummamah Al-Hanaath : Bahwasannya Ka’b bin ‘Ujrah bertemu dengannya saat ia hendak pergi ke masjid. Mereka saling bertemu waktu itu. Ka’b melihatku sedang menjalinkan jari-jemariku (tasybik), kemudian ia melarangku dan berkata :
“Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَلَا يُشَبِّكَنَّ يَدَيْهِ فَإِنَّهُ فِي صَلَاةٍ
‘Apabila salah seorang diantara kalian wudlu, membaguskan wudlunya, kemudian pergi menuju masjid; maka janganlah ia menjalinkan jari-jemarinya (tasybik). Sesungguhnya ia dalam keadaan shalat”
[HR. Abu Dawud no. 562; At-Tirmidzi no. 386; Ahmad 4/241,242, 243; Ibnu Khuzaimah no. 441; Ad-Daarimi no. 1444; dan yang lainnya – shahih].
Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tentang shalat berjamaah:
مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ
“Barangsiapa yang shalat 40 hari ikhlash kepada Allåh secara berjamaah, dan mendapati takbiratul ihram, niscaya ditulis baginya dua pembebasan; pembebasan dari Neraka dan pembebasan dari kemunafikan.”
(HR. At-Tirmidzi, shahih)
3. Keutamaan tetap duduk hingga waktu syuruq dan shalat sunnah syuruq
Shalat isyraq adalah shalat dua raka’at yang dilaksanakan setelah melaksanakan shalat shubuh; lalu ia duduk ditempat ia shalat menunggu waktu syuruq; kemudian shalat isyraq ketika memasuki waktu tersebut. waktu syuruq kira-kira 90 menit setelah adzan shubuh. Silahkan lihat disini jadwal syuruq disini. Maka ketika masuk waktu syuruq berdasarkan jadwalnya, maka KITA TIDAK LANGSUNG SHALAT SUNNAH SYURUQ, karena waktu tersebut adalah waktu DIHARAMKAN UNTUK SHALAT, akan tetapi menunggu kira-kira 15 menit (sebagaimana nanti akan dijelaskan dalam atsar ‘aa-isyah radhiyallahu ‘anha).
Waktu isyraq merupakan AWAL WAKTU DHUHA; sehingga orang yang melaksanakan shalat isyraq berarti ia telah melaksanakan shalat dhuha.
Dari Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, bahwa Ibnu Abbas tidak shalat Dhuha. Dia bercerita, lalu aku membawanya menemui Ummu Hani’ dan kukatakan :
“Beritahukan kepadanya apa yang telah engkau beritahukan kepdaku”.
Lalu Ummu Hani berkata :
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk ke rumahku untuk menemuiku pada hari pembebasan kota Mekkah, lalu beliau minta dibawakan air, lalu beliau menuangkan ke dalam mangkuk besar, lalu minta dibawakan selembar kain, kemudian beliau memasangnya sebagai tabir antara diriku dan beliau. Selanjutnya, beliau mandi dan setelah itu beliau menyiramkan ke sudut rumah. Baru kemudian beliau mengerjakan shalat delapan rakaat, yang saat itu adalah waktu Dhuha, berdiri, ruku, sujud, dan duduknya adalah sama, yang saling berdekatan sebagian dengan sebagian yang lainnya”.
Kemudian Ibnu Abbas keluar seraya berkata :
“Aku pernah membaca di antara dua papan, aku tidak pernah mengenal shalat Dhuha kecuali sekarang…

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ

“Artinya : Untuk bertasbih bersamanya (Dawud) di waktu petang dan pagi” [Shaad : 18]
Dan aku pernah bertanya :
“Mana shalat Isyraq ?”
Dan setelah itu dia berkata :
“Itulah shalat Isyraq”
[Hasan Lighairihi; Diriwayatkan oleh Ath-Thabari di dalam Tafsirnya dan Al-Hakim]
Jabir bin Samurah rådhiyallåhu ‘anhu menyifati petunjuk nabi shållallåhu ‘alayhi wa sallam, ia mengatakan:
كان لا يقوم من مصلاه الذي يصلي فيه الصبح أو الغداة حتى تطلع الشمس فىإ ذا طلعت الشمس قام
“Beliau tidak berdiri dari tempat shalatnya -dimana beliau melakukan shalat shubuh- hingga matahari terbit. Jika matahari telah terbit, (maka) beliau berdiri (untuk shalat sunnah isyraq).”
[Shahiih Muslim (I/463) no. 670]
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
“Barangsiapa yang shalat shubuh dengan berjama’ah kemudian dia berdzikir kepada Allah Ta’ala sampai terbitnya matahari lalu dia shalat dua raka’at, maka pahalanya seperti pahala berhaji dan ‘umrah, sempurna, sempurna, sempurna.”
(HR. At-Tirmidziy no.591 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy di dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy no.480, Al-Misykat no.971 dan Shahih At-Targhiib no.468, lihat juga Shahih Kitab Al-Adzkaar 1/213 karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy)
‘Aisyah radhiyallåhu ‘anha berkata:
‎حَتَّى إِذَا كَانَتْ السَّاعَةُ الَّتِي تُكْرَهُ فِيهَا الصَّلَاةُ قَامُوا يُصَلُّونَ
“…(Mereka duduk) hingga waktu yang dilarang untuk shalat telah berlalu, (kemudian) mereka mendirikan shalat”
(AR. Bukhåriy no. 1522; dinukil dari applikasi hadits 9 imam, lidwa pusaka)
Untuk menunggu waktu tersebut, dapat kita gunakan untuk BERDZIKIR PAGI PETANG dan MEMBACA serta MEMPELAJARI al Qur-aan (beserta tafsirnya; spti: tafsir ibn katsir) untuk mendulang lebih banyak keutamaan.
Apa makna “tetap duduk ditempatnya”?
Para ulamaa’ berbeda menjadi tiga pendapat:
Pendapat pertama: Disyaratkan harus tetap duduk ditempat shalatnya
Syaikh Mukhtar As Sinqithi memberikan penjelasan hadis ini, bahwa keutamaan ini hanya dapat diraih jika terpenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:
Pertama, Shalat subuh secara berjamaah.
Sehingga tidak tercakup di dalamnya orang yang shalat sendirian. Zhahir kalimat jamaah di hadis ini, mencakup jamaah di masjid, jamaah di perjalanan, atau di rumah bagi yang tidak wajib jamaah di masjid karena udzur.
Kedua, duduk berdzikir.
Jika duduk tertidur, atau ngantuk maka tidak mendapatkan fadlilah ini. Termasuk berdzikir adalah membaca Alquran, beristighfar, membaca buku-buku agama, memebrikan nasihat, diskusi masalah agama, atau amar ma’ruf nahi mungkar.
Ketiga, duduk di tempat shalatnya sampai terbit matahari.
Tidak boleh pindah dari tempat shalatnya, jika dia pindah untuk mengambil mushaf Alquran atau untuk kepentingan lainnya maka tidak mendapatkan keutamaan ini. Karena keutamaan (untuk amalan ini) sangat besar, pahala haji dan umrah “sempurna..sempurna..sempurna” sedangkan maksud (duduk di tempat shalatnya di sini) adalah dalam rangka Ar Ribath (menjaga ikatan satu amal dengan amal yang lain), dan dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kemudian duduk di tempat shalatnya.” Kalimat ini menunjukkan bahwa dia tidak boleh meninggalkan tempat shalatnya. Dan sekali lagi, untuk mendapatkan fadlilah yang besar ini, orang harus memberikan banyak perhatian dan usaha yang keras, sehingga seorang hamba harus memaksakan dirinya untuk sebisa mungkin menyesuaikan amal ini sebagaimana teks hadis.
Keempat, shalat dua rakaat.
Shalat ini dikenal dengan shalat isyraq. Shalat ini dikerjakan setelah terbitnya matahari setinggi tombak.
(Syarh Zaadul Mustaqni’ oleh Syaikh Syinqithi 3:68)
Pendapat kedua: selama ia tidak meninggalkan masjid yang ia shalat didalamnya
Al Hafidz Ibn Rajab Al Hambali mengatakan,
“Ada perbedaan dalam memahami lafadz ‘..tempat shalatnya..’. Apakah maksudnya itu tempat yang digunakan untuk shalat ataukah masjid yang digunakan untuk shalat?”
kemudian Ibn Rajab membawakan hadis riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bangkit dari tempat shalat subuh sampai terbit matahari.
Setelah membawakan dalil ini, Ibn Rajab berkomentar,
“…dan diketahui bersama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah duduk di tempat yang beliau gunakan untuk shalat. Karena setelah shalat (wajib), beliau berpaling dan menghadapkan wajahnya kepada para sahabat radhiallahu’anhum.”
(Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, Ibn Rajab 5:28)
Pendapat ketiga: Tidak ada syarat untuk duduk ditempatnya, atau tetap di masjid; barangsiapa yang terus berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat (beberapa saat setelahnya), maka ia mendapatkan keutamaan hadits diatas
Mula Ali Al Qori mengatakan,
“…kemudian duduk berdzikir… maksudnya adalah terus-menerus di tempatnya dan masjid (yang dia gunakan untuk shalat jamaah subuh). Hal ini tidaklah (menunjukkan) terlarangnya berdiri untuk melakukan thawaf, belajar, atau mengikuti majlis pengajian, selama masih di dalam masjid. Bahkan andaikan orang itu pulang ke rumahnya sambil terus berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, dia masih (mendapatkan fadhilah sebagaimana) dalam hadis ini.”
(Mirqatul Mafatih, 4:57)
Tarjih
Keterangan Mula Ali Al Qori yang memasukkan orang yang pulang ke rumah selama berdzikir ke dalam hadis ini, bisa dianggap kurang tepat. Karena zhahir hadis secara tegas menunjukkan harus duduk berdzikir di dalam masjid.
Sedangkan keterangan Ibn Rajab bolehnya berpindah tempat ketika berdzikir selama masih di dalam masjid lebih mendekati kebenaran. Mengingat tidak adanya persyaratan dalam hadis di atas yang menunjukkan tidak bolehnya bergeser dari tempat yang digunakan untuk shalat.
Akan tetapi, sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga amal maka ada baiknya jika mengikuti pendapatnya Syaikh As Sinqithy dengan tidak bergeser dari tempat shalatnya. Wallahu a’lam.
(sumber konsultasi syari’ah, oleh Ustadz Ammi Nur Baits)
4. Keutamaan dzikir pagi dan petang
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang dzikir pagi dan petang,

‎ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ‪.‬ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا‪.‬ هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ‪. ‬ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, (dengan) dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.
(QS. al-Ahzab: 41-43)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallma bersabda tentang keutamaan orang berdzikir pagi dan petang:
Aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah dari mulai shalat shubuh sampai terbit matahari, lebih aku sukai daripada memerdekakan empat orang budak dari anak isma’il. Dan aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah dari mulai shalat ‘Ashar sampai terbenam matahari, lebih aku cintai daripada memerdekakan empat orang budak.
(Hasan, HR. Abu Dawud)
Silahkan lihat lebih lanjut tentang dzikir pagi dan petang dan segala keutamaannya disini.
5. Keutamaan orang yang berpagi-pagi ke mesjid untuk membaca dan mempelajari al Qur-aaan
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
غَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Berpagi hari atau bersore hari fi sabilillah adalah lebih baik daripada dunia seisinya…”
(Bukhariy Muslim)
Sedangkan pergi menuju mesjid, merupakan fii sabilillah.
Uqbah bin Amir Al Juhani berkata,
“Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami di Shuffah, beliau bersabda:
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ الْعَقِيقِ فَيَأْتِيَ كُلَّ يَوْمٍ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ زَهْرَاوَيْنِ فَيَأْخُذَهُمَا فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلَا قَطْعِ رَحِم
“Siapa dari kalian yang menyukai berpagi-bagi berangkat ke Buthhan atau Al Aqiq (nama tempat), lalu setiap harinya datang dengan membawa dua ekor unta yang besar punuknya lagi gemuk, ia ambil unta tersebut tanpa berbuat dosa dan dan memutuskan silaturahmi?”
Uqbah berkata;
“Kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami semua menginginkan hal itu”…”
beliau bersabda:
فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلَاثٌ خَيْرٌ مِنْ ثَلَاثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ
“Sungguh, seorang dari kalian berpagi-pagi berangkat ke Masjid lalu ia mempelajari dua ayat dari Kitabullah (Al Qur’an) adalah lebih baik baginya daripada dua ekor Unta. Dan tiga ayat lebih baik daripada tiga ekor unta serta empat ayat juga lebih baik dari pada empat ekor unta dan dari sejumlah unta.”
[HR. Ahmad, dishahiihkan oleh syaikh al-albaaniy dalam shahiihul jaami']
dalam riwayat Abu Dawud lafazhnya:
فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَإِنْ ثَلَاثٌ فَثَلَاثٌ مِثْلُ أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ
“Sungguh salah seorang diantara kalian setiap hari datang ke Masjid, mempelajari dua ayat dari Kitab Allah ‘azza wajalla adalah lebih baik baginya daripada dua ekor unta, dua ayat lebih baik daripada tiga unta, seperti bilangan-bilangan unta tersebut.”
[ HR. Abu Dawud (sanadnya shahiih, dishahiihkan oleh syaikh al-albaaniy dalam shahiih abi dawud)]
Allåhu Akbar, Alangkah banyaknya keutamaan yang bisa kita peroleh..
Allåh berfirman,

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ‪ .‬وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. al-Munafiqun: 9)

Sholat Syuruq


KEUTAMAAN SHOLAT ISYROQ

Sholat ini dinamakan Shalat Isyroq atau Syuruq atau Thulu’. Dinamakan demikian karena pelaksanaannya berkaitan dengan waktu matahari terbit (mulai memancarkan sinarnya).

HUKUM sholat Isyroq/Syuruq adalah SUNNAH.

KEUTAMAANNYA: Orang yang melaksanakannya diberi pahala oleh Allah seperti pahala haji dan umroh dengan sempurna.
Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan ini adalah hadits-hadits berikut ini:
Hadits Pertama:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah
bersabda: “Barangsiapa Mengerjakan shalat Shubuh berjamaah, lalu dia duduk berdzikir sampai matahari terbit, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “sempurna, sempurna, sempurna (pahalanya, pent).” (HR. At-Tirmidzi II/481 no.586)

DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya HASAN, sebagaimana dinyatakan oleh
syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah IX/189 no.3403, dan Misykatu Al-Mashobih I/212 no.971, dan Shohih At-Targhib wa At-Tarhib
I/111 no.464.

Kamis, 19 Juli 2012

Salam Ramadhan dariku..(JK)

Allahumma Baariklanaa fii Rajab wa sya'ban wa Balighnaa Ramadhaan...
Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami di Bulan RAMADHAN..
Yaa Allah engkau telah berjanji bahwa siapa yang gembira dengan tibanya Ramadhan maka haram baginya api neraka-MU...
Yaa Allah sesungguhnya tidak menyalahi Janji...

MARHABAN YAA RAMADHAAN...

Ya ALLAH....
tak sabar hati ini menunggu detik demi detik kedatangan bulanMU...
bulan yang penuh Barokah, Rahmah serta MaghfirahMU....
Ramadhan begitulah ENGKAU menyebutnya dalam wahyuMU
di surah Al Baqarah 185.....

Ya ALLAH.....
tak sabar hati ini....
sekaligus..... aku juga takut.....
takut tidak bertemu dengan RamadhanMU...
walau hanya tinggal sejengkal dari penantianku....
aku takut ya ALLAH....
takut jika ENGKAU memanggilku disaat penantianku....
sementara aku masih berlumur dosa dan nista....

Ya ALLAH....
aku sangat berharap bertemu dengan RamadhanMU....
supaya aku bisa melebur seluruh dosa dan nistaku...
astaghfiruLLAH al'adziiimm....
astaghfiruLLAH al'adziiimm....
astaghfiruLLAH al'adziiimm....
berilah aku kesempatan ya ALLAH...
aku masih malu bertemu dengan ENGKAU...
malu akan dosa dan nistaku.....
diriku masih kotor.....
aku masih kurang bersyukur....
aku masih banyak menyakiti hati orang lain...
Ya ALLAH...
walau aku telah memohon.... bermunajat....
meminta ampun pada ENGKAU...
disetiap saat aku berkomunikasi denganMU...
disetiap sholatku...
namun aku sungguh ingin melebur dosa dan nistaku...
dalam bulanMU yang sangat ENGKAU agungkan....
subhanaLLAH....

saudara-saudaraku yang aku cintai karena ALLAH....
aku ini hanyalah manusia biasa...
yang masih harus menempuh perjalanan yang sangat panjang...
untuk memiliki akhlak semulia Muhammad SAW bin Abdullah ....
aku ini masih sering terbuai bisikan syetan laknatuLLAHI'alayhiim...
sehingga tak sengaja... ataupun sengaja....
mungkin atau bahkan pasti telah menggoreskan...
sedikit luka.... ataupun mungkin meninggalkan jejak hitam...
pada hati saudara-saudaraku...
astaghfiruLLAH al'adziiimm....
astaghfiruLLAH al'adziiimm....
astaghfiruLLAH al'adziiimm....
aku sungguh menyesal....

saudaraku tercinta,
hawa Ramadhan makin merasuk dalam diriku...
aku makin menghanyutkan kerinduanku padanya....
oohhhh segarnya jiwa ini, jika bertemu dengannya...
namun, aku malu untuk bertemu dengannya..
dandanku belum lagi rapi....
badanku masih penuh daki....
bau tak sedap tubuhku sangat menyengat...
itu semua akibat kesalahanku padamu saudaraku.....
dengan segala kerendahan hatiku...
dengan segala penyesalanku....
aku mohon maaf atas semua kekhilafanku....
atas semua kesalahanku....
yang mungkin sangat panjang jika aku ketik dalam sebuah buku...
aku dan keluargaku mohon dimaafkan dengan ikhlas....

saudaraku,
maafkanlah aku...
agar ringan langkahku...
agar muncul percaya diriku untuk bertemu dengan Ramadhan...
percaya diri.... karena aku telah berdandan rapi...
karena tak ada lagi daki....
apalagi jika disiram dengan parfum yang sangat wangi...
parfum ke-ikhlasan-mu saudaraku....
subhanaLLAH......

alhamduliLLAH,
aku juga telah memaafkanmu saudaraku.....
itupun kalau ada kesalahan...
namun setelah aku balik buku catatan kami....
aku hanya menemukan kertas kosong....
kertas kosong nan tak ingin sedikitpun aku isi...
tak ada sedikitpun goresan kesalahanmu dihatiku ya saudaraku...
insya ALLAH... pintu maafku selalu terbuka lebar....
aku buka dengan hawa keikhlasan...

saudaraku,
aku coba buka lagi catatan sebelahnya..
subhanaLLAH walhamduliLLAH....
aku takjub... rupanya banyak catatan penuh bunga....
catatan keindah dan kebaikanmu saudaraku...
untuk itu aku berterimakasih atas segala kebaikanmu...
terutama atas telah dimaafkannya kesalahanku pada Idul Fitri yang lalu...
apatah untuk lagi maaf nan ikhlas yang akan aku terima...
hanya tetes airmata kebahagian yang bisa keluar...
lidahku kelu karena bahagia...
hanya hatiku yang bisa bicara...
JazakmuLLAH khair atas semua kebaikanmu ya ikhwannul muslimin wa
muslimat....

amin ya RABBAL 'alamiiin... walhamduliLLAHI RABBIL 'alamiiin...

GALAU bin FUTUR


ASBABUL GALAU...
dakwatuna.com - Galau, gelisah, gundah, bete, nggak mood, futur de el el. Semua kita mungkin pernah merasakan hal ini. Tapi tahukah kita kenapa hal itu bisa terjadi pada diri kita. Kenapa kita yang tadinya punya hamasah, energik and spirit tiba-tiba dilanda oleh kefuturan atau bahasa anak muda sekarang “galau”. Why?
Apalagi menjelang ujian termin dua ini kita benar-benar membutuhkan semangat baja untuk menaklukkan muqarrar. Sebenarnya galau atau futur itu biasa. Yang penting kata Rasul tidak jatuh ke dalam kemaksiatan. Karena banyak orang yang merasa galau lalu untuk mengobati galaunya itu ia pergi ke tempat-tempat maksiat. Na’udzubillah deh.
Nah, maka sebab itu perlu bagi kita untuk mengetahui apa aja yang bisa membuat kita jadi galau bin futur. Mudah-mudahan dengan mengetahui asbab dari galau tersebut kita bisa meng-ilaj dengan segera sehingga bisa kembali melakukan aktivitas dengan semangat. Yuk, kita simak yang bisa bikin kita galau!
Pertama: Berlebihan dalam din. Artinya kita tidak terlalu berlebihan dalam suatu jenis amal sehingga mengabaikan amal-amal lainnya. Contohnya nih, ketika kita berazzam untuk bisa shalat tahajjud tiap malam. Okelah minggu pertama misi kita berjalan dengan baik, selanjutnya kita malah K’O di tengah jalan. Nah, sebaiknya kita tidak terlalu memaksakan diri. Tapi cobalah secara bertahap, dua kali seminggu. Kalau yang sudah ini berjalan dengan mantab. Insya Allah ke depannya bisa ditingkatkan.
Rasul Saw bersabda: Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan (HR. Muslim)
Karena itu, amal yang disukai oleh Allah adalah amal yang sedikit tapi kontinyu. Setuju…
Kedua: Berlebihan dalam yang mubah. Dalam kaidah ushul fiqih kita tahu bahwa hukum dari segala sesuatu adalah mubah. Tapi keseringan dalam hal mubah bisa bikin kita jadi futur loh. For example Facebook-an melulu sehingga melalaikan kewajiban. Atau dunianya hanya bola saja. Setiap hari yang ia ikuti hanya bola. Pagi main bola, siang entar main pe-es bola, malamnya nonton bola. Yha semua waktunya habis dengan si bola. Bukan berarti saya mengharamkan main bola. Tapi sesuai dengan kadarnya. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk riyadhah sehingga menjaga kesehatan. Karena sebaik-baik urusan adalah aushotuha. Tul nggak?
Ketiga: Memisahkan diri dari jama’ah. Nah loh, jama’ah apaan nih? Eitss…tunggu dulu bro. Rasulullah saw memerintahkan untuk kita berjamaah “Alaykum bil jama’ah”. Dulu ada khilafah islamiyah tempat menyatukan kaum muslimin. Sekarang karena khilafah Islamiyah nggak ada maka kita dianjurkan untuk bergabung dalam jama’ah minal muslimin. Apapun jama’ah dan harakahnya yang penting tujuannya sama yaitu untuk li i’la kalimatillah. Sebab dengan berjama’ah kita akan lebih terjaga dari godaan syetan “Faiina syaithona ma’al wahid”.
Sedangkan tanpa jama’ah seseorang bisa terperangkap kepada kebosanan yang terjadi akibat kerutinan. Karena itu Imam Ali berkata: Sekeruh-keruh hidup berjama’ah itu lebih baik dari bergemingnya hidup sendiri.
Keempat: Sedikit mengingat akhirat. Yap, karena kita sudah terlalu banyak dilalaikan dengan hal yang mubah maka sangat jarang kita mengingat akhirat. Dengan mengingat akhirat kita menjadi terpacu untuk beramal, sebaliknya orang yang lupa dengan kehidupan akhirat akan mudah loyo dan galau.
Kelima: Melalaikan amalan siang dan malam. Melaksanakan ibadah secara tekun akan membuat seseorang selalu ada dalam perlindungan Allah. Karena setiap ibadah yang kita lakukan adalah ibarat bahan bakar yang selalu memacu kita untuk selalu bersemangat. Dengan kata lain orang yang sering melalaikan ibadah akan mudah terjerumus ke dalam kefuturan. So, dari sekarang kalo pengen nggak galau ya ibadah solusinya :)
Keenam: Tidak mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan. Ini dia yang sering membuat kita “jatuh”. Sudah menjadi sunnatullah bahwa kehidupan ini akan penuh dengan tantangan. Maka kita harus punya persiapan dan mental yang kuat dalam menghadapi segalanya. Seperti yang pernah saya tulis dalam catatan sebelumnya tentang “Bereskan Urusanmu Dengan Allah, Lalu Biarkan Ia Membereskan Urusanmu”.
Ketujuh: Bersahabat dengan orang-orang lemah. Bi’ah sangat mempengaruhi sekali dalam hidup kita. Berteman dengan orang-orang lemah semangatnya terkadang juga membuat kita menjadi lemah. Seharusnya kitalah yang menjadi cahaya spirit bagi kawan-kawan kita yang lemah. Bukan berarti kita menjauhi mereka.
Makanya Rasulullah Saw bersabda: “Seseorang atas diri sahabatnya, maka lihatlah dengan siapa ia berteman.” Nggak heran, kalo orang bejat yah temannya sama-sama bejatlah, kalo orang saleh, temannya juga pada saleh insya Allah. Seiring dengan firman Allah Atthoyyibin lit thoyyibat, orang-orang baik itu jodohnya yah buat yang baik-baik juga :)
Itulah beberapa asbabul galau yang sering bikin kita jadi “nggak jelas”. Mudah-mudahan dengan mengetahui asbab nya kita jadi gampang untuk bangkit kembali. Karena umat membutuhkan ar rijal al qowi untuk kembali menegakkan Islam di muka bumi Allah. Insya Allah…Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’ma nashir.

Arkanul Bai'ah Ikhwanul Muslimin


Arkanul Bai'ah
Yang dimaksud dengan Arkanul Bai’ah disini adalah rukun-rukun bai’at yang dikumpulkan oleh Imam Hasan Al Banna kepada mujahidin dari Ikhwanul Muslimin yang tercantum dalam Risalah Ta’lim Wal Usar. Risalah ini ditulis oleh Imam Hasan Al Banna ditengah-tengah perpecahan yang terjadi dalam gerakan-gerakan sebagai Islah atau reformasi kembali untuk menyatukan semua kaum muslimin. Setalah ke khalifahan Turki Ustmani runtuh muncul banyak gerakan/jamaah untuk kembali memperbaiki keadaan umat Islam. Namun sayangnya banyak dari gerakan ini bersifat parsial dal melakukan gerakan perbaikan dan antara satu gerakan dan gerakan lain sering tidak akur dan saling menjatuhkan,mempermasalahkan perbedaan yang sedikit dan sifatnya furu’ dan ikhtilaf,daripada sekian banyak persamaan yang dimiliki. Didasari oleh realitas itulah,maka Imam Hasan Al Banna memformulasikan suatu kerangka berpikir untuk menyatukan semua gerakan penyadaran umat ini untuk bahu-membahu. Risalah ini ditulis Imam Hasan Al Banna pada tahun 1943 M. risalah ini termasuk risalah yang terpenting yang ditulis oleh beliau. Bahkan Ustadz Abdul Halim Mahmud menganggapnya sebagai puncak dan intisari dari semua risalah yang beliau tulis. Risalah ini berisi strategi jamaah Ikhwan dalam tarbiyah dan pembentukan kader. Juga berisi tentang tujuan-tujuan dakwah dan perangkat untuk mencapai tujuan tersebut. Imam Hasan Al Banna menulis risalah ini untuk para ikhwan yang tulus, para mujahdi atau yang disebut dengan kader inti Ikhwan. Dimana gaya bahasa yang dipakai adalah gaya bahasa Instruksi untuk beramal, bukan sekadar pembicaraan.
Di awal dari Risalah ini,Imam Hasan Al Banna mengatakan “Rukun Bai’at kita ada sepuluh, hafalkanlah… “. Dari kalimat pembuka tersebut,ada tiga kata yang menjadi perhatian. Yaitu Arkan,Bai’at dan Infazuha (hafalkanlah).

Arkan berasal dari kata rukun,dalam bentuk jamak. Menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, dalam bukunya Syarah Ar Kanul Bai’ah 1 Alfahmu, kata ini memiliki arti pilar utama, atau salah satu pilar yang menjadi fondasi bangunan sesuatu,atau pilar yang apabila ditinggalkan maka batal suatu pekerjaan dan dan tidak memiliki kekuatan lagi. Atau juga bisa berarti pilar tekuat. Atau masalah yang besar. Atau sesuatu yang memiliki kekuatan,baik berupa raja, tentara dan lainnya atau berupa kedudukan dan kemampuan pertahanan.
Sementara,dari buku yang sama,kata bai’at berarti perjanjian untuk mencurahkan ketaatan dengan harga yang setimpal. Pada asalnya, kata bai’at bermakna mencurahkan ketaatan kepada penguasa dalam melakukan perintahnya. Namun yang harus dipahami,bai’at yang dimaksud disini bukanlah bai’at kepada seorang imamah ‘uzhma,pemimpin kaum muslimin atau khalifah,namun ia adalah bai’at dalam beramal. Ia adalah termasuk bai’at khusus bukan bai’at umum yang diberikan ahlul halli wal ‘aqdhi kepada seorang imam utama kaum muslimin, dimana bai’at yang terakhir ini menuntut syarat consensus dari umat islam. Sa’id Hawwa dalam bukunnya Membina Angkatan Mujahid mengatakan bai’at ini seperti bai’at kepada guru. Sebagaimana Imam Hasan Al-Banna sendiri yang mengatakan dalam pembukaan risalahnya “Ini adalah risalahku untuk mujahidin dari kalangan ikhwanul muslimin”. Sehingga tidaklah tepat jika kita mengaitkan baiat ini dengan konteks hadits-hadits yang berisi konsekuensi bai’at terhadap imamah ‘uzhma, dengan demikian maka orang yang tidak berbaiat kepada pimpinan jamaah dakwah bukanlah orang yang kafir. Hal ini tersirat dalam pernyataan mursyid ‘aam ke dua ikhwan Hasan Al-Hudaibi ketika memecat lima orang anggota hai’ah ta’sisiyyah (dewan pendiri, termasuk syaikh Muhammad Al-Ghazali ) “Bisa jadi mereka lebih mulia dari kita di mata Allah, namun mereka dikeluarkan semata-mata karena masalah organisasi”
Lalu bagaimanakah kita memposisikan arkanul bai’ah ini?. Bukan berarti tidak ada ketaatan atau perihal yang mengikat dalam baiat untuk beramal ini, karena pada dasarnya ia adalah janji dan amanah yang harus ditepati oleh orang-orang yang beriman. Seseorang yang melakukan bai’at berarti dia telah berjanji untuk mencurahkan ketaatannya, sekalipun ketaatan tersebut menuntut harta atau kepayahan atau jiwa selama hal itu dalam mencari keridhaan Allah SWT. Dalam Qur’an surat Al-Fath:10, Allah SWT berfirman “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka, Maka Barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan Barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. Dan ada juga kita temukan kata bai’at disamakan dengan isytara (membeli) yang berarti bahwa bai’at pada hakikatnya merupakan transaksi jual-beli antara seorang hamba dengan Allah SWT dihadapan seorang pemimpin. sebagaimana firman Allah SWT dalam AT-Taubah:111 “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar”.
Adapun kata Infazhuha berasal dari kata fazhahuha (jagalah dia/hafalkanlah dia),menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, dalam bukunya Syarah Ar Kanul Bai’ah 1 Alfahmu, memiliki dua makna yaitu: Sadar dan paham setelah mencermati, dalam arti merasa mantap pada hasil pemahaman, dan Melaksanakan konsekuensi Bai’at, yakni memelihara, menjaga dan melaksanakan
Adapun rincian singkat rukun-rukunnya adalah sebagai berikut:
1.      Al Fahmu
Pemahaman adalah hal yang mengikat seorang al akh dengan bai’at ini. Karena dengan pemahaman al akh yang komprehensif terhadap nilai yang dibawa dakwah ini akan menghasilkan komitmen yang begitu kuat. Idealnya seorang al-akh harus memahami dulu fikrah islamiyyah as-samimah (fikrah islami yang bersih) dengan komprehensif  yang tercantum dalam ushul isyrin yang merupakan bagian pokok dari rukun al-fahmu ini, dan menempatkannya dalam pemahaman yang benar pula sesuai dengan pemahaman salafus-shalih ridwanullah ‘alaihim dan tidak bertentangan dengan al-quran dan sunnah. Dengan pemahaman inilah al-akh yang berbaiat memilih dan menempatkan komitmennya, sehingga ia percaya bahwa ia berada pada jalan yang benar
2.      Al Ikhlas
Yaitu mengikhlaskan niat hanya kepada Allah saja. Ketika kita sudah memiliki ke pahaman maka selayaknya kita memiliki suatu tujuan yang mulia,dan tujuan itu hanyalah untuk Allah semata. Sebagaimana slogan yang ada Allah tujuan kami (Allah Ghayyatuna)
3.      Al ‘Amal
Selanjutnya adalah ‘amal,sebagai bentuk aplikasi dari suatu pemahaman dan dipadu dengan keikhlasan atau dapat dikatakan amal adalah buah dari ilmu dan ikhlas. Karena tujuan dakwah ini tidak akan tercapai tanpa suatu kerja nyata. Dalam risalah ini disebutkan tujuh tingkatan amal atau tata urutan amal (maratibul ‘amal) mulai dari pembentukan pribadi muslim hingga ustadziyatul ‘alam
4.      Al Jihad
Jihad fi sabilillah dengan berbagai tingkat dan variasinya. Dalam risalah ini disebutkan: peringkat pertama jihad adalah dengan hati, dengan lisan,pena,tangan dan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zhalim, dan yang terakhir adalah perang di jalan Allah.
5.      At Tadhiyah
Yaitu seorang al-akh harus siap untuk berkorban di jalan dakwah ini, baik itu pengorbanan jiwa,harta,waktu,kehidupan, dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seorang muslim untuk mencapai tujuan. Karena tidak ada perjuangan di dunia ini, kecuali harus disertai pengorbanan.
6.      At Taat
Yaitu menunaikan perintah Allah dan Rasul-Nya dan Ulil amr, baik dalam keadaan sulit maupun bersemangat, dalam rukun ini dijelaskan tiga tahapan dakwah yaitu ta’rif , takwin dan tanfidz
7.      Ats Tsabat
Yaitu memegang teguh agama, baik dari sisi aqidah, syari’ah, maupun perbuatan. Dan juga terhadap prinsip yang dianut dari jamaah dakwah ini
8.      At Tajarrud
Yaitu membersihkan pola pikir dari prinsip dan nilai lainnya.
9.      Al Ukhuwwah
Yaitu terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan  aqidah.Dimana ukhuwwah dimulai dari salamatush shadr (berprasangka baik) hingga pada tingkat itsar mendahulukan kepentingan saudaranya.
10.  At Tsiqah
Yaitu rasa percaya yang disebabkan kepuasan jundi kepada jajaran qiyadhah nya, dimana hal ini sebenarnya merupakan beban berat bagi qiyadhah karena untuk mewujudkan kepuasan tersebut ia harus membangun kredibilitas dan memperbaiki dirinya, disamping itu jundinya juga harus mengenal lebih jauh para qiyadhah mereka.

Ustadz Ihsan Tandjung membuat klasifikasi atas sepuluh rukun ini dengan membagi dua kelompok yaitu kelompok pertama adalah rukun al-fahmu yang terkait dengan lingkup pribadi, yang kedua adalah rukun ikhlas, amal, jihad, tadhiyyah, taat, tsabat, tajarrud, ukhuwwah, tsiqoh, yang mulai masuk pada lingkup interaksi di luar pribadi yaitu lingkup berjama’ah, dimana aspek dalam kehidupan berjamaah ini terkait erat dengan komitmen yang kuat, sedangkan pada lingkup pribadi didasari oleh pemahaman yang lengkap dan menyeluruh. Oleh karena itu Ustadz Ihsan Tandjung mengistilahkan kelompok pertama dengan Al-Fahmu Syamiil (pemahaman yang menyeluruh) dan yang kedua dengan iltizaamul kaamiil (komitmen yang sempurna). Wallahu a’lam