BAGAIMANA PERAYAAN ULANG TAHUN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
(REFLEKSI 13 JULI 2012)

Assalamualaikum. Wr. Wb.
Ulang tahun dimata islam seperti apa sih? Apa yang mestinya kita
lakukan ataupun sampaikan thdp orang yg berulang tahun.. doa apa yg
sepantasnya diucapkan? Apakah ada riwayatnya di zaman Rasulullah SAW yg
berhubungan dgn ulang tahun?
Perayaan "Ulang Tahun", mungkin yang thorank maksud perayaan Hari (Tanggal) Kelahiran ya?
Mari kita telaah:
1. Dari mana asalnya?
Biasanya ini diiringi dengan acara tiup lilin, sambil menyanyi "Panjang umurnya ... dst" lalu memotong kue, dst.
Bukankah ini adalah adat/ kebiasaan orang non muslim (Yahudi & Nashoro)?
Rasulullah saw bersabda,"Man tasyabbaha bi qaumin fa huwa min hum
(Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka)" (HR
Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat Abdullah bin Umar ra. Dishahihkan oleh
Al Albani dalam Shahih Al Jami' no 6025) Allah swt berfirman, yang
artinya,"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang
baik bagi kalian ..." (Al Ahzab 21). Juga,"Dan ikutilah dia (Muhammad),
agar kalian mendapat petunjuk" (Al A'raf 158).
Sebaliknya
(artinya),"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran
baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mu'min, Kami biarkan
ia leluasa terhadap kesesatan yang telah menguasainya itu dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahannam..." (An Nisa 115)
2. Doa apa yang mesti diucapkan? Apa ada riwayat di zaman Rasulullah saw? Tidak ada.
3. Kalau kita sudah menganggap itu kebiasaan, maka seakan-akan jadi
"harus (wajib)", bahkan saat kita hanya punya uang sedikitpun, tetap
kita merayakannya (jangan-jangan sampai berutangpun kita lakukan). Kalau
sudah begini, bukankah sangat memberatkan? Memang hal yang diada-adakan
itu biasanya memberatkan, sedangkan Allah swt menginginkan yang mudah
untuk kita. Kalau kita perhatikan, tidak ada satupun perintah Alloh swt
yang memaksa (dalam hal materi). Satu-satunya perintah Allah swt yang
"mahal" adalah berhaji ke Baitullah, tapi inipun Allah swt syaratkan
"Bila mampu".
4. Disekeliling (lingkungan) kita, terkadang,
menganggapnya "Sudah biasa", sehingga bila kita katakan bahwa itu
"Tasyabbuh 'ala kuffar (Meniru-niru orang kafir)", mungkin kitalah yang
dikatakan "Fanatik", "Garis keras", dsb.
Jadi (ini sekedar saran),
kalau toh tidak kuasa menghindari acara tsb, paling tidak, janganlah
kita membenarkannya (acara tsb) dengan hati. Rosululloh saw
bersabda,"Man ra a minkum munkaran falyughoyyirhu bi yadihi, fa illam
yastathi' fa bi lisaanihi, fa illam yastathi' fa bi qolbihi wa dzalika
adh'aful iimaan (Barangsiapa melihat satu kemungkaran, hendaknya
mencegah dengan tangannya. Kalau tidak mampu, hendaknya mencegah dengan
lisannya. Kalau tidak mampu juga, hendaknya mencegah dengan hatinya, dan
itu adalah selemah-lemah iman)" (HSR Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar